CERITA PENGAIS SAMPAH Hari menjelang sore, orang-orang bagai memiliki janji yang sama di weekend ini. Berbondong menempuh rumah-rumah rileks, seperti toko buku, toko kelontong, toko rupa-rupa sampai tempat hiburan seperti kafe dan bar. Terutama para lelaki, mereka menghabiskan duit untuk melepaskan penat kerja satu minggunya, untuk berbincang dan minum bersama makanan kecil atau kletikan. Tak terkecuali para pekerja pengumpul sampah kota, tak luput melepas dahaga dan melepas semerbak mereka untuk menukarnya dengan bau minuman ragi yang menusuk lubang hidung. Beberapa tukang sampah tampak berbarengan melangkah dengan kaki yang seirama berbelok memasuki pintu bar yang menyemprotkan angin sejuk di berandanya. Wajah-wajah mereka berbeda dengan wajah mereka pada saat mengolah sampah. Begitu juga baju-baju mereka terlihat sporti, tidak terkesan bahwa mereka adalah orang-orang berwarepack oranye di keseharian terik dan hujan. Saya yang berdiri di depan bar semenjak tadi...